Israel, sebuah negara dengan sejarah panjang dan kaya, memiliki perjalanan menarik dalam evolusi mata uangnya. Dari zaman kuno hingga modern, mata uang yang digunakan di wilayah ini mencerminkan perubahan politik, ekonomi, dan budaya yang signifikan. Mari kita selami lebih dalam mengenai mata uang Israel pada zaman dahulu dan bagaimana perkembangannya hingga saat ini.

    Shekel Kuno: Awal Mula Mata Uang Israel

    Shekel kuno adalah mata uang utama yang digunakan di wilayah Israel pada zaman dahulu. Kata "shekel" sendiri berasal dari kata kerja Ibrani שָׁקַל (shaqal) yang berarti "menimbang." Ini menunjukkan bahwa pada awalnya, shekel merujuk pada berat tertentu dari perak atau logam berharga lainnya. Penggunaan shekel sebagai alat tukar dapat ditelusuri hingga milenium ke-2 SM di Mesopotamia, tetapi penggunaannya di wilayah Israel menjadi lebih menonjol selama periode Bait Suci Pertama (sekitar abad ke-10 hingga abad ke-6 SM).

    Pada masa itu, shekel tidak selalu berbentuk koin seperti yang kita kenal sekarang. Seringkali, shekel berupa batangan atau ingot perak yang beratnya sesuai dengan standar tertentu. Transaksi dilakukan dengan menimbang perak tersebut. Baru pada abad ke-5 SM, di bawah pemerintahan Persia, koin shekel mulai diperkenalkan. Koin-koin ini biasanya menampilkan gambar dan tulisan yang mencerminkan kekuasaan penguasa saat itu.

    Salah satu contoh paling terkenal dari shekel kuno adalah Shekel Tirus. Tirus, sebuah kota pelabuhan di Fenisia (sekarang Lebanon), menghasilkan koin perak berkualitas tinggi yang diterima secara luas di seluruh wilayah Mediterania, termasuk Yudea. Shekel Tirus sangat penting karena merupakan mata uang yang digunakan untuk membayar pajak Bait Suci di Yerusalem. Injil bahkan menyebutkan bahwa Yudas Iskariot menerima 30 keping perak, yang diyakini sebagai Shekel Tirus, sebagai imbalan karena mengkhianati Yesus.

    Selain Shekel Tirus, ada juga jenis shekel lain yang beredar di wilayah Israel, termasuk shekel yang dikeluarkan oleh penguasa Hashmonayim selama periode kemerdekaan Yahudi (abad ke-2 hingga abad ke-1 SM). Koin-koin ini sering kali menampilkan simbol-simbol Yahudi seperti menorah (kaki dian), daun palem, dan cawan manna. Keberadaan koin-koin ini menunjukkan adanya identitas dan kedaulatan Yahudi pada masa itu.

    Penggunaan shekel kuno terus berlanjut hingga periode Romawi. Namun, setelah pemberontakan Yahudi melawan Romawi (abad ke-1 dan ke-2 M), Romawi menghancurkan Bait Suci dan mengambil alih kendali atas wilayah tersebut. Mata uang Romawi, seperti denarius, menjadi lebih umum digunakan, meskipun shekel masih beredar dalam jumlah terbatas.

    Mata Uang pada Periode Romawi dan Bizantium

    Setelah penaklukan Romawi, mata uang yang beredar di wilayah Israel mengalami perubahan signifikan. Denarius Romawi menjadi alat tukar utama, menggantikan shekel sebagai mata uang yang dominan. Denarius adalah koin perak yang digunakan di seluruh Kekaisaran Romawi, dan keberadaannya di Israel menunjukkan integrasi wilayah tersebut ke dalam sistem ekonomi Romawi yang lebih luas.

    Selain denarius, mata uang Romawi lainnya seperti aureus (koin emas) dan sestertius (koin perunggu) juga digunakan, meskipun dalam jumlah yang lebih kecil. Koin-koin ini menampilkan gambar kaisar Romawi dan simbol-simbol kekaisaran lainnya, yang menegaskan kekuasaan Romawi atas wilayah tersebut. Penggunaan mata uang Romawi tidak hanya memfasilitasi perdagangan dan transaksi ekonomi, tetapi juga berfungsi sebagai alat propaganda politik.

    Pada periode Bizantium (abad ke-4 hingga abad ke-7 M), ketika Kekaisaran Romawi Timur menguasai wilayah tersebut, mata uang Bizantium menggantikan mata uang Romawi. Mata uang Bizantium yang paling umum adalah solidus, sebuah koin emas yang beratnya sekitar 4,5 gram. Solidus dikenal karena stabilitas dan nilainya yang tinggi, dan digunakan secara luas dalam perdagangan internasional.

    Selain solidus, mata uang Bizantium lainnya seperti tremissis (sepertiga solidus) dan follis (koin perunggu) juga beredar di Israel. Koin-koin ini menampilkan gambar kaisar Bizantium dan simbol-simbol Kristen, yang mencerminkan agama resmi kekaisaran. Penggunaan mata uang Bizantium menunjukkan pengaruh budaya dan politik Bizantium yang kuat di wilayah tersebut.

    Periode Romawi dan Bizantium membawa perubahan besar dalam sistem mata uang di Israel. Shekel kuno secara bertahap menghilang, digantikan oleh mata uang asing yang mencerminkan kekuasaan kekaisaran yang berkuasa. Namun, warisan shekel tetap hidup dalam sejarah dan budaya Israel, dan akan dihidupkan kembali berabad-abad kemudian.

    Mata Uang pada Masa Kekhalifahan Islam dan Kesultanan Mamluk

    Setelah penaklukan Muslim pada abad ke-7 M, mata uang yang beredar di wilayah Israel kembali mengalami perubahan. Dinasti Umayyah dan Abbasiyah memperkenalkan dirham perak dan dinar emas sebagai mata uang utama. Dirham dan dinar digunakan secara luas di seluruh dunia Islam, dan keberadaannya di Israel menunjukkan integrasi wilayah tersebut ke dalam jaringan perdagangan Islam yang luas.

    Dirham biasanya menampilkan tulisan Arab yang berisi ayat-ayat Al-Quran dan nama penguasa Muslim. Dinar, yang terbuat dari emas murni, dianggap sebagai mata uang yang sangat berharga dan digunakan untuk transaksi besar. Penggunaan dirham dan dinar memfasilitasi perdagangan antara Israel dan wilayah lain di dunia Islam, seperti Mesir, Suriah, dan Irak.

    Pada abad ke-13 M, Kesultanan Mamluk mengambil alih kendali atas wilayah tersebut. Mamluk memperkenalkan mata uang mereka sendiri, termasuk dirham perak dan dinar emas. Mata uang Mamluk sering kali menampilkan simbol-simbol Mamluk seperti singa dan elang, serta tulisan Arab yang memuliakan sultan Mamluk.

    Selain dirham dan dinar, mata uang tembaga yang disebut fals juga digunakan dalam transaksi sehari-hari. Fals memiliki nilai yang lebih rendah daripada dirham dan dinar, dan digunakan untuk membeli barang-barang kecil dan membayar upah. Penggunaan fals menunjukkan adanya sistem mata uang yang kompleks yang melayani berbagai kebutuhan ekonomi masyarakat.

    Masa Kekhalifahan Islam dan Kesultanan Mamluk membawa pengaruh yang signifikan terhadap sistem mata uang di Israel. Mata uang Islam menggantikan mata uang Bizantium, dan perdagangan dengan dunia Islam berkembang pesat. Meskipun shekel kuno telah lama menghilang, warisan budaya dan sejarahnya tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Yahudi.

    Kebangkitan Shekel Modern

    Setelah berabad-abad menggunakan mata uang asing, Israel akhirnya memperkenalkan kembali shekel sebagai mata uang nasionalnya pada tahun 1980. Shekel baru menggantikan lira Israel, yang telah digunakan sejak berdirinya negara Israel pada tahun 1948. Pengenalan shekel baru merupakan langkah penting dalam membangun identitas ekonomi dan nasional Israel.

    Namun, shekel baru mengalami inflasi yang parah pada awal tahun 1980-an, yang menyebabkan pemerintah Israel memperkenalkan program stabilisasi ekonomi pada tahun 1985. Program ini berhasil mengendalikan inflasi dan menstabilkan nilai tukar shekel. Pada tahun 1986, shekel baru digantikan oleh Shekel Baru (NIS), yang masih digunakan hingga saat ini.

    Shekel Baru telah menjadi mata uang yang stabil dan kuat, dan telah membantu Israel membangun ekonomi yang makmur dan beragam. Bank Israel, bank sentral negara itu, bertanggung jawab untuk menjaga stabilitas harga dan nilai tukar shekel. Shekel Baru digunakan dalam semua transaksi ekonomi di Israel, dan juga diterima secara luas di wilayah Palestina.

    Kebangkitan shekel modern merupakan simbol kebangkitan negara Israel setelah berabad-abad diaspora. Shekel bukan hanya sekadar alat tukar, tetapi juga merupakan simbol identitas nasional dan kedaulatan ekonomi. Penggunaan shekel mengingatkan kita akan sejarah panjang dan kaya Israel, dan harapan untuk masa depan yang lebih baik.

    Kesimpulan

    Mata uang Israel pada zaman dahulu mencerminkan perjalanan panjang dan kompleks sejarah wilayah tersebut. Dari shekel kuno hingga Shekel Baru modern, mata uang yang digunakan di Israel telah mengalami perubahan signifikan yang mencerminkan perubahan politik, ekonomi, dan budaya. Meskipun shekel kuno telah lama menghilang, warisannya tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Yahudi, dan kebangkitan shekel modern merupakan simbol kebangkitan negara Israel.

    Dengan memahami sejarah mata uang Israel, kita dapat memperoleh wawasan yang lebih dalam tentang sejarah dan budaya wilayah tersebut. Mata uang bukan hanya sekadar alat tukar, tetapi juga merupakan cerminan dari identitas nasional dan kedaulatan ekonomi suatu negara. Semoga artikel ini memberikan pemahaman yang lebih baik tentang mata uang Israel pada zaman dahulu dan perkembangannya hingga saat ini. Guys, semoga artikel ini bermanfaat ya! Sampai jumpa di artikel berikutnya!